Berintegritas Oleh : Amam Fakhrur

Berintegritas

Oleh : Amam Fakhrur

Nabi Musa AS menyambut dan mengiyakan undangan lelaki tua yang shalih melalui salah seorang anak gadisnya. Nabi Musa AS dan anak gadis itu berangkat menuju rumah lelaki tua yang telah mengundangnya. Musa meminta agar selama perjalanan, gadis itu berada di belakangnya dan agar memberi isyarat dengan lemparan batu ke arah mana yang dituju untuk sampai di rumahnya.

Gadis itu selain kagum kepada kemampuan Musa yang mampu mengangkat batu penutup perigi yang biasanya hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang lelaki, juga karena keputusan Musa yang memintanya berjalan di belakangnya. Ayah gadis itu sempat “curiga” dan penasaran tentang kebaikan Musa,sebelum akhirnya lelaki tua itu bertemu langsung dengan Musa.

Pilihan Musa menempatkan anak gadis agar selama di perjalanan berada di belakangnya, sesungguhnya dapat dikatakan bahwa beliau telah menjunjung tinggi integritas. Mengapa ? Karena kalau Musa mengambil posisi di belakang , dan gadis itu berada di depannya, maka Musa dapat seenaknya jelalatan matanya memandangi bagian tubuh gadis itu. Hal itu tidak dilakukannya, meskipun kalau ia mau melakukannya, tak sulit baginya ,akan aman-aman saja dan tidak ada yang mengetahui. Namun Musa sosok yang berintegritas.

Oleh karena suatu keperluan, seseorang menitipkan sejumlah berkas kepada Faida dengan pesan agar tidak ada seorangpun yang membuka dokumen tersebut. Dokumen itu adalah dokumen perusahaan yang sangat penting dan bersifat rahasia. Selama dititipi sejumlah berkas tersebut, Faida tidak membuka samasekali. Kalau dia mau membuka berkas titipan tersebut tidak ada yang mengetahui,dan ia akan mendapatkan keuntungan besar dengan menjual informasi penting dari suatu perusahaan. Namun Hal itu tidak dilakukannya. Faida adalah sosok yang berintegritas.

Hakim yang telah memutus suatu perkara, tiba-tiba disodori segepok uang oleh seseorang dengan suka rela sebagai “tasyakuran” atas selesainya perkara yang diurusnya. Hakim itu menolaknya sambal berucap “terima kasih, memutus perkara adalah tugas saya dan saya tidak berhak menikmati uang anda”. Hakim tersebut kategori berintegritas. Kalau ia mau menerimanya ya tidak ada yang mendeteksi, tidak ada yang mengetahui,pemberipun menyatakan kerelaannya.

Integritas itu asal katanya integrity (komplit,lengkap) yang berarti konsisten dalam bertindak di tempat manapun dan di waktu kapanpun. Sehingga seseorang dapat dikatakan berintegritas apabila ia memiliki pribadi yang jujur dan karakter yang kuat. Nabi Musa AS, Faida dan Hakim dalam narasi tersebut di atas kategori berintegritas, karena mereka telah bertindak konsisten,jujur dan tidak terperosok di dalam kesenangan dan keuntungan sesaat, meskipun kalau mereka menurutkannya, mereka akan mendapatkan keuntungan.

Orang yang berintegritas akan dapat mengambil keputusan yang tepat ketika berada di persimpangan jalan dimana harus memilih antara tergoda untuk melakukan penyimpangan demi “keuntungan” atau melakukan hal yang benar. Tetap melakukan hal yang benar walaupun ketika tidak ada yang melihat,bahkan ketika poster tentang pentingnya tentang perlunya kejujuran sudah tidak dipajang di dinding.

Membangun diri yang berintegritas itu diawali sikap dari individu-individu yang untuk berada dalam kebenaran dan kebaikan dalam situasi dan kondisi apapun.Sikap berpihak kepada suara hati nurani, kukuh pendirian,selalu konsisten tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan. Memang tidaklah mudah memposisikan diri seperti itu, seringkali seseorang tak tahan akan ketika berada dalam ruang manuver dari pihak lain yang melakukan approach ,untuk menggoalkan suatu tujuan, dengan cara-cara yang tidak sepatutnya,memberikan gratifikasi misalnya.

Sesungguhnya sifat integritas adalah kebutuhan di semua lini kehidupan, agar tatanan pergulan manusia menjadi tertib.Individu-individu yang berintgritas sangat dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga,memajukan perekonomian,kehidupan bangsa,mewujudkan penegakan hukum dan layanan masyarakat.

Saking pentingnya soal integritas dalam konteks untuk memberikan pelayanan yang berkualitas ,oleh instansi pemerintah dilakukan pembangunan zona integritas.Bagaimana dapat terwujud sikap mental bagi aparatur serta budaya yang menceriminkan sikap konsistensi antara perkataan dan perbuatan untuk menghindari sikap tercela yang dapat merugikan diri sendiri dan instansinya,demi memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat. Sampai-sampai dibuat pilot project, untuk menjadi replika agar terwujud zona atau pulau integritas baru di instansi lain.Bahkan untuk motivasi, perlu pengakuan dalam bentuk sertifikasi dan kemudian diberikan reward bagi yang sukses memperolehnya.

Banyak kemanfaatan yang diperoleh tatkala integritas dijunjung tinggi. Dalam diri orang yang berintegritas akan tercipta ketenangan dan kedamaian.Tindakan yang dilakukan tidak perlu dikhawatirkan untuk diketahui orang banyak,sebaliknya berbohong dan tidak berintegritas akan melahirkan kekhawatiran, kecemasan,karena takut diketahui orang lain Detak jantung meningkat dan pola nafas cenderung lebih cepat dan produksi keringat lebih banyak. Memang hawa tubuh ini pada dasarnya menyukai integritas.

Orang yang berintegritas akan mudah mendapatkan kepercayaan dari pihak lain,akan menjadi orang yang bertanggung jawab , dapat diandalkan dan menjadi panutan. Sebaliknya orang yang tidak berintegritas sulit mendapatkan kepercayaan dan secara sosial akan merugikan diri sendiri.

Dalam Islam, manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ia bukan ruang kosong yang tanpa kecenderungan, akan tetapi fitrah dimaknai sejak lahir manusia telah mempunyai dasar kepercayaan kepada Tuhan juga mempunyai kecenderungan kepada hal-hal yang baik dan tidak menerima yang buruk. Percaya kepada Tuhan dan condong kepada kebaikan Itu pengetahuan, maka terkadang manusia menjadi “kafir”,mengingkari benih kekepercayaan kepada Tuhan dan terlupakannya kecenderungan untuk berbuat baik dan kemudian bertindak keliru dan tidak berintegritas.

Karena pada dasarnya berintegritas adalah bagian dari kefitrahan dan yang menciptakannya adalah Tuhan,maka untuk membangun integritas diri selain terus menerus melakukan dialog dengan nurani, juga bagaimana memanfaatkan media komunikasi dengan Tuhan. Secara rutin menjadikan-Nya sebagai kawan agung ( the greatest friend) . Tidak hanya sekedar komunikasi simbolik,sekedar asyik dengan asketisme, tetapi komunikasi yang penuh makna dan menyadarkan kepada kesimpulan bahwa Ia yang Maha Mengetahui (Alim) dan Maha Meliputi (Muhith).

Kalau benar-benar telah merasa bahwa pada diri berada dalam pengetahuan,pantauan dan pengawasan Tuhan, maka bagaimana mungkin seseorang akan melakukan keingkaran dengan bertindak yang melawan nilai-nilai integritas ? Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Apa yang bisa kami bantu?